Gedung Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) Kota Yogyakarta akan menjadi lokasi Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-30 selama seminggu.
YOGYAKARTA, jogja.expost.co.id - Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) menjadi festival gamelan tahunan paling bergengsi di Yogyakarta. Tahun ini mengusung semangat 30 tahun perjalanan. YGF ke-30 akan diselenggarakan selama tujuh hari penuh mulai 21 hingga 27 Juli 2025 di Tanan Embung Giwangan, Kota Yogyakarta. Kali ini, festival tak hanya menjadi ruang perayaan musik tradisi, tetapi juga momentum strategis menuju internasionalisasi gamelan sebagai warisan budaya dunia.
Dalam konferensi pers yang digelar menjelang pelaksanaan festival, Ari Wulu, selaku Festival Director YGF menyampaikan bahwa tahun ini memiliki makna khusus karena menandai tiga momentum penting: 30 tahun perjalanan YGF, 25 tahun kiprah Komunitas Gayam 16, dan pengukuhan YGF sebagai salah satu program strategis kebudayaan nasional.
“Yang istimewa tahun ini bukan hanya karena kami genap 30 tahun. Sejak awal 2025, YGF juga terpilih sebagai bagian dari program strategis nasional yang akan berjalan hingga 2027. Ini tentu pencapaian luar biasa bagi kami dan seluruh penggiat gamelan,” ujar Ari Wulu saat jumpa pers di Le Margaux Brasserie Yogyakarta, pada Rabu (16/7/2025) sekira pukul 16.00 WIB.
Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa edisi tahun ini mengambil tema besar yang berfokus pada anak muda. Tema lengkapnya: Festival Musik, Seni dan Anak Muda dengan Spirit Gamelan. Yang mencerminkan usaha penyelenggara untuk memperluas jangkauan dan menjaring minat generasi muda terhadap gamelan.
“Kami mencoba menyederhanakan tema yang awalnya cukup panjang, agar lebih membumi dan mudah dipahami. Kami ingin membuktikan bahwa gamelan bukan hanya milik masa lalu, tapi juga milik masa kini dan masa depan, terutama di tangan anak-anak muda yang hari ini sudah sangat maju dalam hal kreativitas dan teknologi,” lanjutnya.
Dalam rangka merangkul generasi muda, tahun ini YGF menggandeng komunitas Simak Siar, yang menurut Ari telah banyak bergerak dalam aktivasi seni dan media alternatif untuk anak muda. Panji, perwakilan Simak Siar, turut hadir dalam konferensi pers dan menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah upaya untuk memperluas ekosistem kreatif yang tetap berpijak pada budaya lokal.
Selain itu, YGF 2025 akan menampilkan 16 kelompok karawitan yang akan tampil sepanjang festival. Setiap sore hingga malam, pengunjung akan disuguhkan beragam pertunjukan gamelan, mulai dari gaya tradisi hingga kreasi baru, termasuk kolaborasi lintas genre seperti gamelan dengan alat musik elektronik. Salah satu penampilan spesial datang dari seorang profesor dari Jepang, yang dijadwalkan tampil dalam program internasional festival.
Dukungan dari berbagai pihak pun mengalir. Padmono Anggoro Prasetya, yang juga Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Adat Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan DIY. Ia menyampaikan bahwa kehadiran YGF selama 30 tahun ini telah menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tak harus kaku, tetapi bisa tumbuh dan bertransformasi secara relevan.
Senada dengan itu, Ernawati Purwaningsih, Pamong Budaya Ahli Madya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 10, mewakili Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyatakan kebanggaannya terhadap YGF.
“Proses panjang yang dijalani oleh YGF di bawah Komunitas Gayam 16 adalah contoh nyata dari bagaimana sebuah inisiatif komunitas dapat berkembang menjadi program strategis kebudayaan nasional. Ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017,” ujar Ernawati.
Menurutnya, YGF bukan sekadar festival tahunan, tetapi telah menjadi lokomotif ketahanan budaya nasional. Dukungan terhadap YGF juga merupakan bagian dari strategi penguatan posisi Indonesia dalam peta kebudayaan dunia.
Tak hanya musik, YGF juga akan menghadirkan pasar seni dan pasar kuliner, yang melibatkan pengrajin lokal serta pelaku UMKM.
“Kami ingin pengunjung bisa menikmati festival ini sebagai ruang interaksi budaya secara menyeluruh. Bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk nongkrong, berjejaring, bahkan bertransaksi dengan para pelaku kreatif,” tambah Ari.
Program YGF 2025 juga akan menampilkan pameran visual budaya di Gedung Graha Budaya, termasuk instalasi kain dari komunitas Akar, serta konser gamelan internasional dari tanggal 25 hingga 27 Juli, dengan partisipasi kelompok gamelan dari luar negeri, termasuk Kanada dan Jepang.
Ari berharap, perayaan 30 tahun YGF bisa menjadi titik tolak untuk semakin memperkuat posisi gamelan sebagai bagian dari peradaban dunia.
“Anak-anak muda hari ini tidak hanya mengapresiasi tradisi, mereka juga mengenal diri dan identitas budayanya dengan cara yang lebih kreatif dan terbuka. Kami hanya berusaha membuka ruang untuk mereka berkembang melalui gamelan,” pungkas Ari Wulu. (Tyo)
Editor: Mukhlisin Mustofa/Red
Social Header