Krisis Eugenol Tolak Angin, Benarkah Jadi Peluang Emas bagi Antangin JRG?
YOGYAKARTA, jogja.expost.co.id - Dalam kerasnya persaingan pasar obat herbal masuk angin di Indonesia, kelemahan satu pihak sering kali menjadi keuntungan besar bagi pihak lain. Ketika Tolak Angin, pemimpin pasar dominan dengan penguasaan 72 persen, dihantam krisis reputasi terkait isu eugenol pada awal 2026, pertanyaan yang segera mengemuka di kalangan pengamat bisnis adalah: siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari kepanikan konsumen ini?
Pada Januari 2026, linimasa media sosial digemparkan oleh narasi viral yang secara masif mengeklaim bahwa kandungan eugenol atau ekstrak daun cengkeh dalam Tolak Angin dapat merusak lambung. Meskipun berbagai pihak menyatakan kabar tersebut sebagai hoaks, kepanikan telanjur menyebar luas, terutama di kalangan konsumen penderita GERD. Di tengah turbulensi reputasi yang menimpa market leader inilah, gerak-gerik kompetitor utama, yakni Antangin JRG produksi Deltomed Laboratories, menjadi sorotan yang sangat menarik untuk dianalisis.
Antangin JRG merespons momentum ini dengan manuver pemasaran. Pada pertengahan Mei 2026, hampir bersamaan dengan upaya keras Sido Muncul memulihkan citra lewat Nicholas Saputra, Deltomed justru meluncurkan kampanye “Pejuang Pantang Tumbang” yang dibintangi oleh aktris papan atas, Dian Sastrowardoyo.
Pemilihan waktu peluncuran dan figur ini sangat sulit dilihat sebagai kebetulan semata. Kampanye Antangin JRG bersama Dian Sastro diluncurkan secara resmi pada 11 Mei 2026, tepat sehari sebelum Sido Muncul menggelar konferensi pers (12/5/2026) untuk menjelaskan penurunan kinerja kuartal pertama mereka.
“Dian telah lama memilih Antangin JRG untuk menemani aktivitas kesehariannya, jadi kolaborasi ini terasa sangat natural. Artinya, posisi produknya sebagai pilihan yang aman dan terpercaya,” ungkap General Manager Deltomed, Jesslyn Rahardjo dalam rilis resmi yang diterima Redaksi, Rabu (9/7/2026) malam.
Lebih dari sekadar adu pesona mantan bintang film “Ada Apa Dengan Cinta”, kampanye Antangin JRG menawarkan narasi yang sangat kontras dengan situasi yang dihadapi Tolak Angin. Ketika sang rival sibuk menangkis isu bahan baku yang dianggap keras bagi lambung, Antangin justru menampilkan iklan komedi ringan di mana Dian Sastro menormalisasi gejala masuk angin—bahkan dengan santai memparodikan adegan “buang angin”—melalui pendekatan yang hangat dan bersahabat. Tagline legendaris “Wes Ewes Ewes, Bablas Angine” kembali digaungkan sebagai simbol kelegaan instan tanpa bayang-bayang efek samping yang menakutkan.
Secara strategis, momentum krisis eugenol ini memang memberikan peluang emas bagi Antangin JRG untuk merebut ceruk pasar dari konsumen yang mulai ragu. Dalam sistem penjualan produk kesehatan yang sangat mengandalkan loyalitas dan persepsi aman, keraguan sekecil apa pun terhadap pemimpin pasar adalah celah yang sangat berharga bagi penantang.
Pada akhirnya, perang bintang di layar kaca ini adalah representasi nyata dari pertarungan memperebutkan kue pasar obat herbal yang bernilai triliunan rupiah. Bagi Antangin JRG, badai reputasi yang menimpa kompetitornya merupakan momentum krusial yang harus dimanfaatkan dengan eksekusi kampanye yang cerdas. Di industri farmasi herbal, kepercayaan konsumen adalah mata uang paling berharga, dan saat ini, Deltomed tampaknya sedang sibuk mengumpulkan koin-koin keraguan yang berjatuhan dari saku pesaing utamanya. (*)
Editor : Mukhlisin Mustofa/Red


Social Header