Breaking News

Yogyakarta Matangkan Pengajuan UNESCO World Book Capital 2028

Pemerintah Kota Yogyakarta mulai mematangkan substansi pengajuan Yogyakarta sebagai UNESCO World Book Capital 2028 

Jogja expost co.id, Pemerintah Kota Yogyakarta mulai mematangkan substansi pengajuan Yogyakarta sebagai UNESCO World Book Capital 2028 dengan menghimpun pandangan dari berbagai unsur yang selama ini membangun ekosistem perbukuan dan kebudayaan di kota tersebut.

Langkah itu dibahas dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Konsolidasi dan Pemantapan Substansi Pengajuan Yogyakarta UNESCO World Book Capital 2028 di Ruang Wijaya Kusuma, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin (28/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kota Yogyakarta dengan akademisi, pustakawan, seniman, budayawan, pegiat literasi, penulis, serta pelaku perbukuan. Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY Wawan Arif Rahmat, pegiat literasi sekaligus sastrawan Fairuzul Mumtaz, dan penulis Iqbal Aji Daryono hadir sebagai narasumber.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan, pengajuan tersebut bukan upaya menciptakan ekosistem buku yang sama sekali baru. Pemerintah justru ingin memetakan kembali berbagai potensi dan praktik yang telah tumbuh, kemudian menghubungkannya menjadi kekuatan bersama.

Kita tidak sedang menciptakan sesuatu dari nol. Kita sedang membaca kembali apa yang sudah dimiliki Yogyakarta, kemudian menghubungkan, memperkuat, dan membawanya ke ruang yang lebih luas,” kata Yetti.

Menurut dia, kekuatan perbukuan Yogyakarta tidak berada pada satu lembaga maupun satu program. Ekosistem tersebut terbentuk dari keterlibatan berbagai pihak, mulai dari penerbit, penulis, komunitas, perpustakaan, akademisi, ruang kebudayaan hingga masyarakat pembaca.

World Book Capital menjadi momentum untuk menghubungkan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Buku dan Kehidupan Kebudayaan

Dalam penyusunan substansi pengajuan, buku juga ditempatkan lebih luas daripada sekadar produk industri atau media membaca. Buku dipandang sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan yang berhubungan dengan pengetahuan, bahasa, sastra, pendidikan, kreativitas, serta pewarisan nilai.

Buku adalah produk kebudayaan, tetapi sekaligus menjadi cara kebudayaan diwariskan, dibicarakan, dan terus diciptakan,” kata Yetti.

Pandangan tersebut menjadi pijakan untuk memetakan kekuatan ekosistem buku Yogyakarta. Berbagai kegiatan seperti produksi dan penerbitan buku, aktivitas penulis dan sastrawan, perpustakaan, ruang baca, gerakan literasi, festival dan pameran buku hingga keterlibatan masyarakat diharapkan dapat ditampilkan sebagai satu kesatuan.

Konsolidasi lintas sektor juga diarahkan untuk memperkuat sejumlah aspek dalam pengajuan, antara lain kelembagaan, kolaborasi, pembiayaan, dampak bagi masyarakat, monitoring dan evaluasi, serta keberlanjutan program.

Dengan pendekatan tersebut, dokumen pengajuan diharapkan tidak sekadar memuat daftar kegiatan, tetapi mampu menggambarkan ekosistem perbukuan yang telah hidup dan berkembang di Yogyakarta.

Mendapat Dukungan

Pemantapan pengajuan ini berlangsung setelah muncul dukungan terhadap langkah Yogyakarta menuju UNESCO World Book Capital. Pada penutupan Jogja Book Fair, 8 September 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan dukungan terhadap upaya tersebut.

Tingginya partisipasi masyarakat dalam Jogja Book Fair juga dinilai menjadi salah satu modal untuk memperkuat ekosistem perbukuan Yogyakarta. Kementerian Kebudayaan turut mendukung dorongan IKAPI DIY agar Yogyakarta memenuhi kriteria sebagai World Book Capital.

Bagi Pemerintah Kota Yogyakarta, dukungan tersebut menjadi bagian dari proses yang lebih panjang. Forum konsolidasi yang digelar Senin menjadi salah satu tahapan untuk memastikan substansi pengajuan benar-benar merepresentasikan kondisi dan potensi perbukuan di Yogyakarta.

Selanjutnya, berbagai masukan dari para pemangku kepentingan akan dimatangkan menjadi rumusan yang diterjemahkan ke dalam dokumen pengajuan UNESCO World Book Capital 2028.

Yetti menegaskan, agenda tersebut bukan semata-mata program Pemerintah Kota Yogyakarta. Pengajuan dibangun bersama ekosistem buku dan kebudayaan yang selama ini telah tumbuh di kota tersebut.

Dengan demikian, World Book Capital diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara penulis, penerbit, perpustakaan, komunitas, ruang kebudayaan, akademisi dan masyarakat pembaca dalam membangun kehidupan perbukuan Yogyakarta secara berkelanjutan.Pungkas:Yetti(Tyo)
© Copyright 2022 - jogja.expost.co.id