Jogja expost.co.id Menjangkau pasien yang kesulitan mengakses layanan kesehatan jiwa menjadi salah satu upaya Puskesmas Depok II melalui program KAK DEWA Keliling. Petugas mendatangi rumah warga di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, untuk memastikan pendampingan kesehatan tetap berjalan.Minggu:11/10/2026
KAK DEWA merupakan singkatan dari *Kau Adalah Kita Terdepan dalam Kesehatan Jiwa*. Program ini menyasar orang dengan disabilitas psikososial (ODDP), terutama mereka yang menghadapi kendala mobilitas, keterbatasan dukungan keluarga, atau stigma di lingkungan sosial.
Momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa akses terhadap layanan kesehatan jiwa tidak semestinya terhenti hanya karena pasien kesulitan datang ke fasilitas kesehatan.
Pengelola Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Depok II, Bernadeta Dewintasari, mengatakan kunjungan rumah memungkinkan tenaga kesehatan memahami persoalan pasien secara lebih utuh. Bukan hanya kondisi medis, melainkan juga situasi keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya.
“Melalui kunjungan rumah, kami dapat memahami kondisi pasien sekaligus kesulitan yang dihadapi keluarganya. Dari situ, kami mengupayakan pendampingan dan tindak lanjut sesuai kebutuhan,” kata Bernadeta.
Bersama psikolog klinis Swastika Ayu Normalasari, tim melakukan penjangkauan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pelayanan meliputi pendampingan pengobatan oral maupun injeksi sesuai indikasi medis, edukasi kesehatan jiwa, serta koordinasi penanganan dan rujukan jika diperlukan.
Petugas juga menilai dukungan sosial dan hambatan yang membuat pasien sulit menjalani perawatan secara berkelanjutan. Dalam kondisi kegawatdaruratan psikiatri, koordinasi dengan pihak terkait dilakukan untuk mengupayakan pertolongan dengan tetap memperhatikan keselamatan pasien, keluarga, dan petugas.
Namun, mendatangi rumah pasien bukan berarti persoalan langsung selesai. Sebagian pasien belum bersedia menerima kunjungan. Di sisi lain, keluarga bisa mengalami kelelahan, kekhawatiran, atau kesulitan memahami kondisi anggota keluarganya.
Swastika mengatakan kepercayaan menjadi bagian penting dalam proses pendampingan. Karena itu, komunikasi dilakukan dengan tenang, disertai kesediaan mendengarkan dan menghormati hak pasien.
“Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan. Kami perlu mendengarkan, memahami kekhawatiran pasien dan keluarga, serta membangun kepercayaan secara bertahap,” ujar Swastika.
Kesediaan pasien untuk berbicara atau menerima kunjungan berikutnya menjadi bagian dari proses tersebut. Pendampingan tidak semata-mata berfokus pada pengobatan, tetapi juga membuka ruang komunikasi agar pasien tetap terhubung dengan layanan profesional.
Keluarga pun menjadi bagian penting dalam program ini. Melalui edukasi, mereka diajak memahami kondisi pasien, mengikuti rencana pengobatan, mengenali perubahan yang perlu diperhatikan, dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan. Keluarga juga diberi kesempatan menyampaikan kendala selama mendampingi pasien.
“Keluarga juga membutuhkan dukungan. Dengan komunikasi yang baik, mereka dapat menyampaikan kendala sehingga langkah pendampingan bisa dibicarakan bersama,” kata Bernadeta.
Pelaksanaan KAK DEWA Keliling melibatkan dokter, perawat, psikolog, tenaga farmasi, bidan, serta pengemudi Mardona dan Maryadi. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Kapanewon Depok dan kader Kalurahan Siaga Sehat Jiwa (KSSJ) Condongcatur turut mendukung penjangkauan di tingkat masyarakat.
Dukungan juga datang dari Bhabinkamtibmas Condongcatur, Aiptu Bastian Sapta Adhi dan Aipda Bagiyo, terutama dalam koordinasi sesuai kebutuhan di lapangan.
Kolaborasi lintas sektor itu diperlukan agar pelayanan kesehatan tidak berhenti pada pemeriksaan atau pemberian obat. Pasien membutuhkan kesinambungan perawatan, sementara keluarga memerlukan dukungan untuk menghadapi tantangan selama proses pendampingan.
Melalui KAK DEWA Keliling, Puskesmas Depok II berupaya mendekatkan layanan kepada warga yang selama ini menghadapi hambatan memperoleh pertolongan. Di balik setiap kunjungan, ada upaya menjaga akses pengobatan, menguatkan keluarga, dan mengurangi stigma terhadap orang dengan disabilitas psikososial.
Harapannya, pasien dapat menjalani kehidupan sehari-hari, mengembangkan kemampuan, dan berpartisipasi dalam lingkungan sosial sesuai kondisi masing-masing. Sebab, pelayanan kesehatan jiwa tidak hanya menyangkut pengobatan, tetapi juga kesempatan bagi setiap orang untuk memperoleh dukungan dan hidup dengan bermartabat.Pungkas:Swastika(Tyo)


Social Header